Latest Posts

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
JJ.Hogman mendefinisikan seni kedalam 3 pilar fundamental, yaitu ideas, activities, dan artifact. Ideas bisa diartikan dengan wujud seni sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, & nilai-nilai,Sedangkan activities dapat diartikan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam berkesenian. Dan terakhir artifact dapat diterjemahkan sebagai wujud seni melalui hasil karya yang dihasilkan oleh manusia. Jogja-Budaya-Tradisi dan segala yang menyertainya termasuk Prambanan adalah bukti manifestasi dari perpaduan antara 3 unsur tersebut.



Foto ini Diikutsertakan dalam Lomba Library Festival 2017 yang diadakan oleh Perpustakan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY 

#libraryfestival2017 | #libraryfipuny
Aksi Musisi jalanan Di sudut kota Jogja (Image by :Sumber )






Yogyakarta, ya Yogyakarta, mendengar atau mengucapkan kata tersebut pasti yang terbersit di kepala kita adalah nama kota yang identik dengan Malioboro, sejarah, keraton, musisi jalanan dan masih banyak lagi, intinya untuk menjelaskan kota ini tidak akan pernah ada habisnya, karena akan selalu ada yang istimewa jika kita telisik dari berbagai sudut pandang.

Satu yang menurutku sangat menarik untuk dibahas yakni mengenai keberadaan beragam musisi jalanan yang bisa kita temui di setiap sudut kota ini. hampir disetiap perhentian lampu merah di atas trotoar, pasti kita bakal menemui para musisi ini, dengan ciri khas yang jogja banget menurutku membuat musisi ini sangat istimewa dan berbeda dengan pengamen / musisi di daerah lain. mereka seolah menjadi pewarna yang membuat cita rasa khas jogja makin terasa di setiap sudut-sudut jogja kala kita berkeliling. 

Salah satu tempat dan lokasi yang paling pas jika kita ingin menyaksikan pertunjukan para seniman musisi jogja,tentu saja kita bisa menengok langsung di sepanjang jalan malioboro. Seolah tanpa kenal lelah, dengan penuh semangat mereka berpadu dan berkolaborasi memainkan musik, seperti angklung gendang, calung, gitar,dll, bersinergi dengan suara alunan lagu jawa, dangdut, pop, maupun lagu aransemen masa kini dengan gaya khas mereka, menjadi salah satu daya tarik dan hiburan yang sayang sekali jika dilewatkan terutama bagi teman-teman yang hanya numpang lewat atau sekedar holiday di Jogja.

Pertunjukan Musisi jalanan di Jogja (Image by : Sumber )

Ciri khas mereka adalah keunikan dan gaya musikalitas mereka yang natural dan nyentrik, simple dan tidak terkesan berlebihan, dari raut dan bahasa tubuh merekapun terlihat wajah-wajah bahagia meskipun lelahnya badan dan raga mereka selalu nampak, aku berfikir inilah musisi yang sebenarnya, mereka selalu tampil prima dan total meski penghasilan yang didapat tidak seindah lantunan musik mereka, banyak orang yang menyaksikan mereka namun, jarang sekali bahkan enggan untuk memberikan sedikit sumbangan untuk jasa mereka seikhlasnya. Aku menyadari bahwa, bagi mereka kebahagiaan itu tidak hanya diukur dari materi, dengan hanya menyaksikan dan sedikit apresiasi tepuk tangan dari penonton, sudah membuat mereka bahagia dan bangga.

Perlu disadari bahwa meskipun mereka mungkin dikagumi karena mampu memberikan pertunjukan yang menghibur dan musikalitas yang menarik, namun dari hati kecil mereka juga, jika diberikan pilihan pasti enggan untuk menekuni pekerjaan seperti saat ini, ya ini sebuah realitas dan kenyataan yang harus kita saksikan dan yang mereka hadapi, mereka disatu sisi menjadi tuan rumah yang ramah untuk pengunjung, namun di satu sisi mereka juga harus menjadi tuan rumah yang terpinggirkan, dirumah mereka sendiri.

fakta menunjukan jika para musisi jalanan di Jogja, adalah mereka-mereka yang kurang beruntung, kebanyakan tidak mencicipi pendidikan, atau hanya sebentar namun harus putus di tengah  jalan, alasanya klasik, ya karena tidak memiliki biaya untuk membayar biaya pendidikan, mayoritas mereka datang dari keluarga yang tidak mampu. inilah potret kecil negeri ini. negeri yang kaya "katanya", ya kaya kata para koruptor.

So, Akan tetapi  dari itu semua ada hikmah dan manfaat yang besar dari keadaan ini, di satu sisi dengan adanya para musisi jalanan di Jogja, akan senantiasa memberikan warna dan rasa yang khas Jogja dan sekaligus melestarikan budaya Jogja, karena kita tahu bahwa Seniman jalanan ini adalah budaya turun temurun yang perlu dilestarikan di Jogja, adapun manfaat dari para pengunjung dengan adanya show musik di setiap sudut Jogja ini, membuat mereka mendapat pengalaman dan hiburan ala khas Jogja yang bisa didokumentasikan dan dikenang , dan dari sisi para musisi sendiri mereka bisa menjadikan pekerjaan ini sebagai salah satu mata pencaharian mereka. intinya adalah mereka sama dengan kita sama-sama memanfaatkan potensi dan apa yang dimiliki untuk mengais rejeki. yang terpenting pekerjaan sebagai seorang musisi jalanan itu adalah pekerjaan yang mulia, karena hasil yang didapat dari jerih payah dan keringat mereka sendiri, dan halal tentunya, bukan dengan meminta-minta apalagi mencuri duit rakyat,;).

oke sekian dulu sepenggal tulisan dari saya. Penulis sendiri adalah seorang mahasiswa yang sedang studi di Jogja,  yang sedikit terusik dan prihatin melihat kondisi sosial dan ekonomi di negeri ini yang kian hari semakin memprihatinkan. dengan coba menulis sedikit bait-bait opini dan fakta dari apa yang penulis  saksikan, dengar, dan rasakan sendiri . karena inspirasi itu ada disekitar kita, maka ciptakan inspirasi itu menjadi sesuatu yang isimewa dan menjadi layak, sehingga bisa menginspirasikan.



Best regards, for Street Musician,
(Sabtu, 8 Agustus 2015)
Borobudur 3 Juni 2015 (lampion fest.)

[3 Juni 2015]


3 Juni 2015, kala itu untuk pertama kali saya dan beberapa sahabat saya pergi untuk menyaksikan perayaan hari raya Umat Buddha 'Hari Waisak' di Candi Borobudur (Magelang).Untuk pengalaman kali ini cukup menarik karena ada beberapa kejadian yang diluar dugaan kami, salah satunya yaitu salah waktu, karena untuk perayaan tahun ini dimundur sehari, yakni 3 juni.

Jadi awalnya, beberapa hari sebelumnya, kami kebetulan sedang libur dari perkuliahan karena semingggu kedepan tepat tanggal 1 juni kami sudah dihadapkan pada UAS. Nah, kebetulan pada hari jumat 4 hari sebelum Waisyak,  saya dan seorang teman saya , sedang membahas masalah perkuliahan dan rencana liburan pasca UAS nanti, dan kebetulan saya sempat membaca berita online tentang perayaan hari waisyak, jadi saya langsung menanyai teman saya yang kebetulan tahun lalunya mereka pergi melihat perayaan waisya, dan saya menawarkan bagaimana jika untuk tahun ini kita pergi melihat ke sana, apalagi pikir saya jaraknya tidak begitu jauh antara Jogja-Magelang jadi tidak perlu melakukan persiapan yang macam-macam, temenku pun ternyata punya niat yang sama, katanya kapan lagi bisa menyaksikan perayaan-perayaan seperti itu, maka kami sepakat untuk pergi ke sana2 juni nanti.

Setelah membahas mengenai tiket masuk, dan hal-hal teknis lainnya, kami sepakat untuk hari selasa nanti akan ke sana (Borobudur) pada malam hari. namun, kami menyadari pada saat itu ada sesuatu hal yang mengganjal dan sangat penting yang tidak bisa ditingalkan, ya tepat hari selasa nanti pada saat itu kami semua sudah memasuki UAS di kampus kami, walau jadwal Ujian dari kami tidak sama dan ada yang tidak memiliki jadwal pada hari itu, namun tentu kami semua harus berpikir ulang kembali jika ingin pergi ke sana. sebab bagi kami UAS itu sangat penting jadi tentu kesibukan-kesibukan yang menggangggu atau yang tidak terkati perkuliahan haruslah sejenak kita tinggalkan.

Namun tentu bukan kita dong, kalau tidak berputar otak mencari solusi dan mencari kesempatan untuk bisa mewujudkan rencana kami. sekali lagi tekad dan rasa penasaran yang begitu mengejolak di dalam batin kami untuk sejenak pergi melihat perayaan setahun sekali itu, mengalahkan logika dan realitas yang ada dihadapan kami, yaitu UAS.

Malam itu juga saya dan teman saya menghubungi rekan-rekan karib kami beberapa orang untuk bertanya dan mengajak mereka sesuai dengan rencana kami. dan kebetulan pada malam itu sudah ada 2 orang yang bersedia ikut, dan 4 orang totalnya. Adapaun 3 orang teman lainnya belum memberi kepastian, dan memang pada hari kami pergi mereka tidak ikut karena ada kesibukan sendiri, jadi kami totalnya hanya 4 orang.

Selasa 2 Juni, tepat pada hari ini dan hari sebelumnya  ada dua perayaan besar yakni perayaan Waisya dan hari lahir Pancasila (1 juni), kebetulan dalam beberapa hari terakhir ini cuaca di kota Jogja dan beberapa wilayah di Indonesia lagi sering-seringnya di datangi tamu dari langit, yaitu Hujan, sama halnya pada hari ini selasa 2 Juni dari siang hari hujan dengan deras mengguyur kota Jogja, tentu jika hujan tidak juga reda sampai malam, rencana kami pasti akan gagal, alias tidak jadi pergi. Namun memasuki maghrib di hari itu hujan mulai mereda dan cuaca sudah sedikit lebih cerah, hati pun mulai lega.

Sebelum maghrib setelah bersiap-siap dan mengemas barang-barang yang akan di bawa, saya langsung meluncur ke tempat kumpul kami yaitu tempat kos temanku. Ya kami akan berangkat ke magelang setelah Isya. Tepat pukul 7.40 setelah sholat Isya kami yang berjumlah 4 orang langsung berangkat menggunakan 2 motor menuju magelang menembus dinginya malam pasca hujan, dengan tanpa perbekalan kami langsung meluncur.

sekitar pukul 9 malam,  setelah menempuh 40Km lebih kami sampai di Magelang, kami disambut dengan macetnya jalan pada saat memasuki candi Mendut, ya karena ada upacara perayaan menuju hari raya waisyak pada malam itu di Candi Mendut maka jalan dialihkan melewati utara dan memutar, kebetulan jalan yang kami lewati kali ini melewati rumah warga dan persawahan, dengan jalan yang sempit dan gelap, jadi perlu ekstra hati-hati.

Setelah beberapa saat kami memutar akhirnya kami tiba di area candi Borobudur, kami tekejut, karena suasana malam itu sunyi, dan sama sekali terlihat dari luar tidak ada aktivitas di dalam candi, hanya terlihat beberapa orang di dalam , dan beberapa pedagang yang berjualan di sekitar luar area borobudur. Kami sempat berputar-putar untuk mencari tempat masuk, dan akhirnya kami berhenti di gerbang utara, yang masih terbuka sambil menengok ke dalam penuh dengan kebingungan. 

Beberap saat kemudian ada seorang mas-mas warga asli situ menghampiri kami dari seberang jalan, seraya berkata 


"mas-mas acara nya itu besok malam mas, kebetulan untuk tahun ini diundur sehari mas, jadi untuk perayaan lampionnya dan puncak acara itu besok mas, kalau mau datang besok malam aja lagi, jam segini"

kami berempat saling bertatap dan bengong, karena gak nyangka kalau perayaannya itu besok. 


"oo..gitu ya mas, berarti lampionya besok malam ya, ? waduh udah jauh-jauh kirain malam ini e..." jawab salah satu dari kami. 
"dari mana mas-mas e ?" tanya warga tadi. " dari Jogja e..mas," jawab temenku.

Setelah bercakap-cakap beberapa lama, kami pun memutuskan untuk kembali, sebenarnya ingin menginap pada malam itu tapi karena teman kami ada yang ujian besok hari, jadi dengan sangat kecewa kami harus kembali lagi ke Jogja malam ini juga. Untuk sedikit mengobati kekecewaan, sebelum balik kami singgah di candi Mendut, untuk sekedar melihat suasana di sana sembari nyari kuliner untuk mengisi perut.

Setelah sampai di candi  mendut, ternyata di sini sangat ramai, kebetulan pada saat kami sampai baru saja selasai upacara ritual keagamaan di candi mendut, jadi memang sangat ramai karena banyak warga yang ingin melihat acara tersebut ataupun sekedar berkeliling di pasar malam, yang berada disekitar candi. Disepanjang jalan banyak sekali jajanan makanan, pakaian, accesoris, dan pernak-pernik yang di jajakan. kami pun sempat mampir dan berkeliling untuk melihat berbagai macam dagangan dan aksesoris, mungkin saja ada yang menarik untuk dibeli. 

Saya menyempatkan untuk membeli celana pendek training untuk jogging, beberapa teman lainpun membeli beberapa pernak-pernik. setelah puas berkeliling pasar malam, kami bersegera mencari makan, disekitar candi banyak sekali jajanan yang bisa dipilih, ada bakso, mie ayam, sampai gorengan dan berbagai macam kue dan makanan ringan, saya menyempatkan membeli beerapa gorengan dan kue, dan kemudian kami segera menuju salah satu gerobak yang berjualan mie ayam dan bakso, sampai di sana, kami memesan mie ayam dan Es jeruk.

Sembari menunggu,  kami becengkrama dan mencicipi kue dan gorengan yang tadi kami beli, beberapa saat kemudian mie ayam dan es jeruk yang kami pesan datang, sambil bercerita dan bersenda gurau kami melahap mie ayam tadi, sehabis makan kami santai sejenak, sambil menikmati suasana malam candi mendut, ya kebetulan malam itu pengunjung tidak diperbolehkan masuk area candi karena sedang ada persiapan dan gladi bersih untuk upacara esok hari, jadi pengunjung hanya bisa menyaksikan dari luar.

Hampir pukul 11 malam, setelah puas bersantai dan perut sudah terisi, waktunya kita memutuskan untuk segera balik ke jogja, meski sedikit kecewa karena tujuan utama kami belum tercapai, namun sudah sedikit terobati setelah kami menyempatkan singgah di candi mendut dan menikmati suasana malam di sana. karena kami dari awal sudah komitmen, maka kami putuskan untuk kembali lagi esok hari untuk menyaksikan upacara puncak waisyak dan pelepasan lampion.

Rabu, 3 juni 2015, sekitar pukul 19.30 malam setelah Sholat Isya, kami berempat bersiap-siap untuk pergi kembali menuju magelang untuk menyaksikan pelepasan lampion, kebetulan cuaca malam ini sangat cerah, meskipun siang harinya sempat hujan. Setelah 2 jam kami menempuh perjalanan dari Jogja, pukul 9 akhirnya kami tiba di magelang, memasuki area borobudur, sudah mulai terlihat suasana keramaian, mendekati area candi kendaraan mulai berjalan pelan karena terjadi kemacetan, di kiri-kanan banyak sekali kendaraan-kendaraan yang parkir banyak sekali pengunjung yang berjalan kaki dan harus memarkirkan kendaraanya jauh di luar area karena sulit memasuki area borobudur, aparat dan kendaraan kepolisian dan tentara juga sangat banyak malam itu, ya mereka bertugas untuk mengamankan jalannya acara malam itu agar berjalan dengan lancar.

Setelah memarkirkan kendaraan di utara candi, kami langsung segera memasuki area candi dan menuju ke dalam candi. Malam itu memang sangat banyak sekali pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan malam puncak waisyak ini, Ya saya bepikir ini bukan sekedar perayaan keagamaan, tetapi ada unsur budaya dan tradisi yang menjadi daya tarik, tidak kalah penting yakni ada unsur sosial. Sebab dalam perayaan ini, sama sekali tidak membatasi orang / pengunjung entah dari berbagai macam suku, agama, dan golongan hadir untuk menyaksikan perayaan ini, bahkan pengunjung disambut dengan ramah dan ikut dilibatkan berpartisipasi dalam acara pelepasan lampion ini. Hal posotif dari perayaan ini adalah acara ini mampu menyatukan sekat perbedaan yang selama ini menjadi hal yang sensitif, namun pada malam ini sekat itu tidak ada, semua masyarakat bercampur baur, berkumpul dengan tertib menyaksikan perayaan pelepasan lampion ini. Luar biasa indah, jika hal ini bisa kita saksikan setiap hari di dalam kehidupan masyarakat kita yang sarat pluralitas ini. hmmm...
Terlihat banyak sekali pengunjung dari berbagai daerah yang sedang duduk di padang rumput sembari menyaksikan dan menunggu prosesi pelepasan lampion (Rabu, 3 Juni 2015)

Saat kami tiba di area depan candi, di tanah lapang sebelum memasuki tangga candi sebelah kanan candi sedang ada ritual dan disitu para pengunjung sudah mengitari untuk menyaksikan acara. terlihat dari kejauhan ada deretan biksu-biksu dan pemuka agama sedang duduk dan sedang berdoa dan melakukan prosesi keagamaan. 

Nampak Candi borobudur dari kejauhan, karena pada malam itu pengunjung tidak diperkenankan masuk ke dalam candi, jadi hanya bisa di abadikan dari luar area candi
Ternyata untuk tahun ini, acaranya tidak dilakukan di Candi borobudur melainkan di area lapangan di bawah candi, entah karena alasan apa. sementara di atas candi hanya panitia dan mereka yang memiliki co-card anggota yang bisa naik ke atas, terlihat juga dari bawah patung Budha yang berukuran raksasa yang menghadap ke arah utara candi. memang sedikit kecewa bagi kami, sebab kata teman saya pada tahun lalu prosesi acara puncaknya dan pelepasan lampion dilakukan di atas area candi, maka selain bisa menyaksikan acaranya kita juga bisa menikmati dan melihat area candi lebih dekat. alhasil kami hanya bisa melihat candi dari kejauhan.


Sekitar pukul 11 malam, panitia mulai melakukan persiapan untuk prosesi puncak , yaitu pelepasam Seribu dua ratus lampion ke atas langit. pelepasan lampion ini diibaratkan melepaskan segala macam dosa dan hal-hal buruk yang ada pada diri manusia agar kembali suci dan kembali menuju fitrah manusia seutuhnya. kebetulan untuk acara ini panitia melibatkan para pengunjung dari berbagai golongan yang berminat untuk ikut serta, jadi mereka yang punya kesempatan untuk menerbangakn lampion adalah mereka yang beberapa hari sebelumnya sudah melakukan pendaftaran, jadi karena kami tidak melakukan pendaftaran sebelumnya maka kami hanya bisa menyaksikan acaranyadari kejauhan seperti pengunjung lainnya sembari melakukan dokumentasi dan mengabadikan mommnet yang terjadi.hehe...
Panitia sedang memberikan arahan kepada para peserta yang akan melepaskan lampion
Ritual Upacara , sebelum acara pelepasan lampion
Dalam pelepasan kali ini dilakukan dalam 3 kali sesi, dan setelah menunggu beberapa lama, tiba kita menyaksikan pelepasan pertama, seluruh peserta diberikan lampion dan dipandu panitia untuk segera membakar lampion yang telah diberikan tadi. setelah lampion panas dan menunggu aba-aba panitia, satu persatu lampu lampion yang dipegang peserta dilepas ke atas, dan sungguh luar biasa menyaksikan ketika lampion yang berjumlah sekitar 200-an, perlahan naik ke atas  menerangi dan memenuhi langit malam itu, pokonya keren deh. pengunjung pun berlomba-lomba mengabadikan momment itu, bahkan ada yang histeris berteriak, emang sedikit lebay sih, tapi itu merupakan espresi takjub mereka melihat pemandagan yang indah dan romantis itu. ya romantis bagi yang punya gandengan. hehe..., pokonya ,malam ini puas deh melihat prosesi acara lampion yang berlangsung selama 2 jam lebih dan dibagi dalam 3-4 sesi pelepasan.

Setelah puas dan menyaksikan pelepasan terakhir yakni sekitar pukul 1.30 pagi, kami bergegas balik  ke Jogja dengan perasaan yang lega karena sudah tercapai keinginan untuk menyaksikan perayaan lampion. kami harus segera balik sebelum pagi menjelang karena pada pukul 8 pagi nanti saya akan mengikuti UAS. 

Jika dipikir-pikir cukup nekat juga ya, tapi inilah pengalaman, sesuatu yang tidak kalah penting menurut ku, karena bagi ku jika "ilmu" saya dan kalian bisa mendapatkan pengetahuan yang sama, berbeda dengan pengalaman, pengalaman yang didapat tidak akan mungkin sama diantara setiap orang. dan satu lagi pengalaman tidak akan bisa diulang, pengalaman itu hanya bisa kita dapatkan sekali, berbeda dengan ilmu kita bisa pelajari berulang kali, tergantung seberapa niat dan mau kita untuk mau belajar. okeeyyy.... ;)



lampion-lampion yang diterbangkan ke laingit
Terlihat langit malam tiba-tiba terang , karena dipenuhi lampion-lampion yang berterbangan di atas langit borobudur


Hal yang dapat saya simpulkan setelah menyaksikan perayaan kali ini yakni, saya menyadari bahwa pluralitas dan keragaman masyarakat Indonesia bukanlah merupakan sebuah penghalang dan penghambat kita untuk senantiasa bersatu dan saling menghargai antara sesama umat beragama, bukankah dengan berdamai dan bersatu itu akan lebih Indah, karena dalam ajaran agama manapun, termasuk Islam sangat menjunjung tinggi kedamaian dan persatuan. Secara manusiawi, senantiasa menghargai perbedaan diantara sesama umat manusia adalah merupakan keniscayaan dan kodrati fitrah manusia. bukankah Allah SWT juga berfirman :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.QS. 49:13
Bahwasanya, perbedaan itu sejatinya merupakan anugerah dari yang maha kuasa, sang pencipta langit dan bumi, Allah SWT. lantas untuk apa kita saling merendahkan satu sama lain, saling membenci, saling membatasi diri dalam hidup bermasyarakat. mungkin dalam tataran akidah dan kepercayaan, kita boleh berbeda, dalam Al-Quran Allah berfirman : Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6), namun dalam kehidupan masyarakat (Horizontal), secara kodrati kita adalah saudara dan saling membutuhkan satu sama lain, bener gak ?.

Bagi Islam agama yang saya anut, yang membedakan derajat seseorang atas yang lainnya hanyalah ketakwaan. Yang paling bertakwa dialah yang paling mulia. Dengan adanya persamaan derajat itu, maka semakin meminimalisir timbulnya benih-benih kebencian dan permusuhan diantara manusia, sehingga semuanya dapat hidup rukun dan damai. Aspek lain yang ajaran Agama ku sangat tekankan demi terciptanya perdamaian dalam kehidupan sosial ditengah masyarakat adalah persoalan keadilan. 

Keadilan harus diterapkan bagi siapa saja walau dengan musuh sekalipun. Karena dengan ditegakkannya keadilan, maka tidak ada seorangpun yang merasa dikecewakan dan didiskriminasikan sehingga dapat merendam rasa permusuhan, dengan demikian konflik tidak akan terjadi. Allah berfirman dalam al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.QS. 5:8

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.QS. 60:8

Hal lain yang juga tak kalah pentingnya adalah persoalan kebebasan. Dalam hal ini Islam menjunjung tinggi kebebasan, terbukti dengan tidak adanya paksaan bagi siapa saja yang beragama, setiap orang bebas menentukan pilihannya. Dengan adanya kebebasan tersebut diharapkan tidak ada yang merasa terkekang hingga berujung pada munculnya kebencian.(http://www.alquranalkitab.net)


Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.QS. 2:256


Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang dimuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? QS 10:99

Karena jika kita bisa merenungi dan memahami, sesungguhnya kita harus bersyukur karena diberikan anugerah oleh yang maha kuasa atas keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa, tentu perbedaan itu sungguh sangat indah,  karena keberagaman adalah alasan kenapa kita tidak sendiri hidup di dunia ini, percayalah negeri ini akan selalu damai jika kita senantiasa meletakkan asas-asas toleransi dalam garda depan kehidupan bermasyarakat kita, dan senantiasa menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan berbangsa kita. okeyy guys..Tetaplah bangga dengan perbedaan dan junjung tinggi selalu toleransi dan perdamaian. 

Tulisan Ini berdasarkan pengalaman dan pendapat pribadi penulis yang ditelisik dari aspek Sosial dan kehidupan bermasyarakat dan sama sekali tidak ada unsur merendahkan atau menyinggung golongan agama tertentu. keep PEACE guys.... :)



Experience and My Story on Rabu, 3 Juni 2015 | ditulis pada 15 Agustus 2015.

@grojogan Waterfall


[Sabtu, 4 April 2015]

LANJUTAN >>> 
[PART II]

puas bersantai dan berfoto, cuaca pun mulai gelap, sekitar hampir pukul 5 kami memutuskan untuk kembali balik, ya kami di waduk hanya sekitar 2 jam lebih, karena enggan menginap kami memutuskan untuk kembali, agar kami tidak terlalu larut malam saat tiba di klaten nanti.

Saat menuju perjalanan balik Sebelum sampai di bukit, yang awalnya tujuan kami ingin berfoto di lokasi itu karena posisinya yang pas dan viewnya di atas bukit dan dibelakangnya terlihat desa tawamangu (karanganyar) maka sangat pas jika berfoto, namun rencana itu harus buyar dan gagal, karena kami kalah diburu waktu yang saat itu sudah beranjak gelap, akhirnya dengan sedikit kecewa kami terus melanjutkan perjalanan, menembus hutan dan kegelapan, ya karena masih hutan jadi apablia malam hari, kita perlu ekstra hati-hati mengingat kondisi jalan yang terjal dan sempit, serta banyak tikungan apalagi disepanjang perjalanan tidak ada lampu penerangan jalan, jadi sangat rawan terjadi kecelakaan. 

Karena adzan maghrib mulai berkumandang, kami sejenak menepi di masjid terdekat, jam saat itu menunjukan hampir jam 6 sore, suasana sudah mulai bertambah dingin, selain kami banyak juga orang-orang yang mampir di Masjid untuk Sholat dan sekedar beristirahat. woow..dinginya, saat menyentuh air untuk berwudhu, suhu saat itu kira-kira sekitar 15-18 derajat celcuis, pokoknya dingin deh. 

Setelah selesai sholat, kami berkumpul untuk membahas tujuan perjalanan, saya sempat menyarankan untuk sejenak kami beristirahat sembari mencari minuman panas untuk diseduh sambil menunggu sholat Isya, yang memang rentangnya hanya sekitar 1 jam dengan waktu sholat maghrib, sangat tanggung jika langsung melakukan perjalanan, mengingat belum tentu kami akan mendapat masjid nanti, tapi karena hari yang mulai malam, beberapa dari kami menyarankan untuk langsung saja kembali melanjutkan perjalanan, ya semua pun sepakat, kami langsung bergegas kembali melalukan perjalanan.

Saat diperjalanan, nahas bagi kami, tiba-tiba tetesan air turun dari langit, ya hujan, awalnya rintik-rintik namun semakin lama semakin deras, wah kalau terus melakukan perjalanan gak mungkin apalagi kondisi jalanan menurun dan licin, jadi kami pun langsung mencari masjid terdekat, dan kebetulan kami menemukan sebuah pesantren gak tahu namanya apa karena malam jadi gak sempat dibaca, kebetulan juga tepat sholat isya, jadi kami mampir sholat sembari beristirahat menunggu hujan reda.

Pada saat kami masuk, para jemaah sudah melaksanakan sholat, kami bergegas mencari tempat wudhu, dan lalu sholat berjamaah berlima di ruangan tersendiri terpisah dengan masjid utama, setelah sholat kami sejenak meluruskan badan sembari bergurau dan bercengkrama, tak berapa lama kemudian pengurus masjid menghampiri kami lalu menanyai sholat. 

Suasana di dalam Masjid (pesantren) setelah sholat Isya, kami bersantai dan saling bercengkrama sembari menunggu hujan mereda. (kiri-kanan : Asyad, Saya, dan Herwin).
Sekitar 20 menit kemudian, jam menunjukan pukul 7.20, tapi hujan di luar tak kunjung reda, suasana di dalam pesantren mulai ramai, para jamaah yang tadi sholat mulai kembali beraktivitas, karena tidak enak dengan para santri dan jamaah lain, juga takut akan menganggu aktivitas mereka, apalagi pada saat itu banyak sekali santriwati, jadi gak enak jika berlama-lama di dalam, takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. hmm...

Kami mengambil tas dan bergegas keluar, alhamdulillah, cuaca mulai cerah meski rintik hujan masih sedikit mengguyur, tapi tidak sederas beberapa menit lalu, kami memberanikan diri untuk melanjutkan perjalanan, masing-masing kami mengeluarkan mantel dan jas hujan, setelah terpakai, kami langsung kembali melanjutkan perjalanan, karena kondisi jalan pada saat pulang menurun dan terjal, maka kami berhati-hati dan pelan-pelan dalam menuruni jalan dan terus meluncur dengan motor kami.

Kami Sempat mampir di ATM untuk mengambil duit, dan kebetulan saat mengantri saya melihat ada setumpuk kertas yang ternyata adalah beberapa pecahan uang 5000-an dan 10 ribu, totalnya kalau tidak salah 25 ribu, alhasil karena kami menanyai orang sekitar tidak ada yang mengaku kehilangan uang, kami langsung membagi duit tadi untuk keperluan mengisi bensin, saya dalam hati berkata : "mungkin inilah rejeki kami, karena pada saat itu di dompet kami hanya tersisa duit 4000-an, dan tentu gak cukup jika ingin mengisi bensin"

setelah mengantri saya bergegas masuk ATM, namun apes,ya saat melakukan pengambilan, duitku tidak cukup untuk melakukan transaksi karena nominalnya di bawah 100 ribu, haha... akhirnya saya harus meminjam duit kepada teman yang lain yang kebetulan masih punya banyak duit karena baru diambil dari ATM.

Setelah Dari ATM kami melanjutkan perjalanan, dan saat berjalan kira-kira 10 menit dari ATM tadi, masih di lokasi desa wisata tawamangu, motor teman kami salah satu bensinnya mulai menipis, dan benar, setelah beberapa meter berjalan setelah dipaksa, mesin motorpun tiba-tiba mati, kami berhenti sejenak, dan beremuk, karena memang pada saat itu tidak ada tempat penjualan bensin, salah satu teman kami yang sendirian, membantu mendorong motor teman kami yang mogok tersebut dengan kakinya, syukur jalannya menurun jadi tidak perlu di dorong terlalu ekstra, sambil pelan-pelan kami terus menuruni bukit, selang berapa meter kami menemukan kios dan tempat jualan bensin eceran yang masih buka, sampai di lokasi kami masing-masing mengisikan bensin motor kami, sembari membeli roti dan minuman untuk sejenak beristirahat dan mengisi perut kami yang lapar karena kedinginan.

Setelah beberapa menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan, dan kebetulan saat itu cuaca sudah sangat cerah, jadi kami bisa lancar melakukan perjalanan, kami sempat singgah membeli bensin motor kami lagi, yang mulai menipis di SPBU terdekat. kemudian kami kembali berangkat melanjutkan perjalanan, Sekitar 30 menit diperjalanan kami tiba di perbatasan kota Solo, kami juga sempat mampir di alun-alun kota karanganyar kalau tidak salah, pokoknya di perbatasan solo, saya gak tau itu alun-alun apa, yang pasti kami sempat singgah sambil makan buah yang tadi kami beli. setelah sekitar 30 menit kami menikmati suasana malam minggu di alun-alun, sekitar pukul 8.15 kami melanjutkan perjalanan ke klaten.

pada saat sampai di kota solo, lagi-lagi kami kebingungan karena salah jalan, kebetulan saat itu 4 April 2015 lagi ada pembangunan jalan layang di Solo, jadi jalan utama dialihkan, terpaksa kami memutar  dan melewati jalan pintas. Beberapa meter perjalanan saat sampai di perbatasan kota solo, karena kondisi malam yang gelap, kami kembali salah melewati jalur, karena tidak melihat arah penunjuk jalan, ternyata arah menuju klaten menuju selatan tapi kami malah ke arah barat, terpaksa kami putar balik dan kembali ke jalur yang benar.

Saat mendekati klaten, teman kami yang mengendarai motor kelelahan dan mengantuk, terpaksa kami berhenti sejenak di pinggir jalan, sembari meluruskan badan, kami juga sempat mampir di Indoma*e*, untuk membeli minuman, setelah merengangkan badan, sekitar hampir pukul 9, kami melanjutkan perjalanan, kira-kira sekitar 7-9 km lagi kami akan tiba di klaten, ya kira-kira 20-30 menit lagi.

kami terus melanjutkan perjalanan, karena malam itu saturday night jadi kondisi lalu lintas sangat ramai, walau memacu cepat kendaraan kami selalu harus tetap berhati-hati. Sekitar 30 menit kemudian, akhirnya kami sudah masuk di daerah klaten, sebelum sampai di tujuan kamimemasuki jalan desa beberapa meter yang gelap dan seram , dan sekitar hampir pukul 10 malam kamipun tiba di Rumah Mbah teman ku.

Karena pada saat itu kami semua kelelahan, mengantuk, dan lapar, tanpa menunggu lama kami bergegas memasak mie, lalu makan bersama, kebetulan mbah temenku semua sudah tidur. Usai makan, kami bergegas Sholat lalu kemudian langsung membaringkan badan yang lelah dan berasa mau lepas karena lama duduk di atas motor. sekitar hampir pukul 12 malam, kami semua mulai merebahkan badan, dan tanpa waktu lama kami tertidur lelap. take a rest guys... 

Pagi hari sekitar pukul 6 lewat, masing-masing kami bangun, walau masih ada juga yang enggan bangun dan memilih tiduran. di dapur mbah temen ku sudah mulai memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk kami, setelah semua bangun dan sholat kami nyantai-nyantai sembari menonton tv, berselang beberapa menit kami di suruh sarapan pagi. Setelah sarapan pagi selesai, kami bersantai sejenak, sambil kembali merebahkan badan.

Jam menunjukkan pukul 9, kami mulai bergegas siap untuk kembali ke Jogja, ya pagi ini kami memutuskan langsung balik ke Jogja, karena beberap teman ada yang memiliki kegiatan masing-masing walaupun hari itu hari minggu, kebetulan cuaca hari minggu kali ini sangat panas, jadi perjalanan pasti akan lancar walau terasa berat karena harus ekstra fit. setelah bersiap-siap, dan pamitan kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Jogja tercinta.

sekitar 2 jam lebih di perjalanan, dengan kondisi dari kami semua yang ngantuk dan kelelahan, kami tiba di jogja city. masing-masing kami langsung berpisah di tengah jalan, dan kembali di kosan masing-masing, kebetulan kosan kami semua beda lokasi. Sekitar pukul 11 lewatakhirnya sampai juga di kosan. saya yang saat itu ngantuk dan lelah langsung mandi, Sholat dan kemudian bergegas merebahkan badan dan tertidur pulas. so, sampai disini cerita untuk kali ini, experience 2 hari mengelilingi klaten,solo, dan air terjun gorjogan tawamangu, sebuah pengalaman yang sangat menarik dan memorable, karena banyak sekali kejadian dan hal-hal berkesan yang kami alami kemarin. semoga pengalaman ini bisa memberikan kami banyak pelajaran kenangan dikemudian hari. 

Buat sobat yang pengen liburan juga, ini bisa dijadikan referensi liburan lho, terutama yang lokasinya masih di jawa tengah, pokoknya banyak sekali tempat-tempat menarik yang bisa dijadikan pilihan untuk liburan, salah satunya ya hutan wisata dan air terjun grojongan sewu tawamangu ini, Beberapa fasilitas yang bisa Anda nikmati di hutan wisata ini adalah Taman Binatang Hutan, kolam renang, Telaga, tempat istirahat, kios makanan, kios buah-buahan, toko cinderamata,mushola dan MCK. Kemudian apabila yang ingin berkeliling bisa menggunakan kuda, lalu apabila anda berada di telaga sarangan anda bisa menyewa Speed Boat atau bebek air untuk berkeliling telaga, so tergantung kalian, mau pilih yang mana sesuai selera dan ketersediaan budget. let's adventure & holiday, then making your experience...





Sala satu motor yang mengantarkan kami menuju Tawamangu
Dokumentasi saat travelling di tawamangu

Story & experience on Sabtu 4 April, 2015 (At tawamangu Waterfall & Telaga Sarangan)

ditulis pada Selasa 11 Agustus 2015